Fenomena terkait beberapa TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah beberapa kota di Indonesia yang ditutup karena over kapastias atau dikeluhkan keberadaannya oleh masyarakat sekitar TPA akhir-akhir ini, tentunya menjadi perhatian penanggungjawab Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TPA Adiadi yang secara teknis menangani pengelolaan TPA Adiadi- Mamuju. Ditanya terkait dengan potensi umur pakai TPA Adiadi sebagai tempat pemrosesan akhir sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga kota Mamuju, Muhammad Wajidi Azhar, SE, selaku kepala UPTD TPA Adiadi mengungkapkan bahwa jika diasumsikan kedepannya, volume sampah yang masuk setiap hari ke TPA Adiadi masih sama seperti saat ini, maka dimungkinkan umur pakai TPA bisa sampai 7 tahun kedepan. Muhammad Wajidi menjelaskan bahwa volume sampah yang masuk ke TPA Adiadi setiap harinya sekitar 20 ton, dengan area sampah yang diangkut adalah kawasan perkotaan di kecamatan Mamuju dan Simboro.
TPA Adiadi dibangun tahun 2007 , berlokasi di dusun Adiadi, kelurahan Botteng Utara, kecamatan Simboro, sekitar 18 km kearah selatan kota Mamuju. TPA Adiadi telah beroperasi lebih dari satu dekade untuk melayani pemrosesan akhir sampah penduduk kota Mamuju, dan didesain sebagai TPA sistem controlled landfill. Karena didesain sebagai TPA Controlled landfill, maka sampah yang masuk dilakukan pemadatan dan juga penimbunan dalam periode waktu tertentu, Hal ini dilakukan untuk mengurangi dampak negatif keberadaan TPA seperti bau tidak sedap, dan juga estetika TPA. Sampah yang dikelola di TPA Adiadi adalah sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, yang berasal dari area pemukiman, perkantoran dan fasilitas publik dan sosial lainnya seperti pasar, hotel, kawasan pertokoan, fasilitas olahraga serta fasilitas ibadah yang ada di daerah perkotaan Mamuju.
Ketika ditanya terkait apakah faktor yang mempengaruhi umur pakai TPA?, Muhammad Wajidi menjelaskan bahwa umur pakai TPA sangat bergantung pada volume sampah yang masuk TPA, dan juga usaha untuk perluasan lokasi TPA. Volume sampah yang masuk TPA sangat tergantung pada jumlah penduduk, wilayah/ area pelayanan pengangkutan sampah dan juga tata cara masyarakat mengelola sampah. Faktor jumlah penduduk dan luas area pelayanan sampah tentunya merupakan faktor yang tetap dimana jika jumlah penduduk bertambah dan area pelayana angkutan sampah luas tentunya volume sampah yang terangkut ke TPA semakin besar, tetapi faktor yang bisa dikelola dan sangat signifikan mempengaruhi umur pakai TPA adalah perilaku masyakrat dalam mengelola sampah yang dihasilkan. Muhammad Wajidi menyatakan bahwa pengelolaan sampah oleh masyarakat di kota Mamuju saat ini masih minim, dimana masyarakat sangat terbatas melakukan pengurangan dan pemilahan sampah yang dihasilkan, sehingga hampir semua sampah yang dihasilkan dibuang ke tempat sampah dan diangkut ke TPA. Kondisi ini menyebabkan volume sampah terangkut ke TPA selalu tinggi. Jika masyarakat berani memulai dan konsisten melakukan pengurangan dan pemilahan sampah yang dihasilkan, tentunya volume sampah yang diangkut ke TPA Adiadi akan berkurang, sehingga akan menambah umur pakai TPA.
Berdasarkan estimasi kasar UPTD TPA Adiadi, dari 20 ton sampah rumah tangga yang masuk di TPA setiap harinya, diperkirakan sekitar 15% merupakan sampah plastik yang sebagian besar masih bisa didaur ulang seperti botol bekas air mineral atau botol berwarna lainnya, gelas plastik, botol sampo, botol deterjen, limbah plastik lainnya yang bisa didaur ulang. Selain itu sekitar 15% merupakan sampah kertas yang juga sebagian besar bisa didaur ulang seperti karton, kertas HVS, amplop. Sedangkan sampah rumah tangga yang diangkut ke TPA, didominasi oleh sampah dengan karakteristik sampah organik seperti sisa makanan, potongan sayuran dan bahan dapur lainnya, serta sampah spesifik organik seperti ranting dan batang pohon. Sampah organik ini adalah material yang bisa diolah menjadi kompos dan/atau makanan ternak. Muhammad Wajidi memperkirakan sekitar 30-40% sampah yang terangkut ke TPA masih memiliki nilai ekonomi yang bisa didaur ulang/ dijual kembali, atau diubah menjadi kompos sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Sayangnya masyarakat belum memilahnya dan memilih untuk membuangnya ke TPA, sehingga sampah yang masuk ke TPA selalu semakin banyak. Muhammad Wajidi sangat mengharapakan peran serta aktif masyarakat kota Mamuju untuk melakukan pengurangan dan pemilahan sampah dari rumah. Dengan kurangi dan pilah sampah yang dihasilkan, akan memperpanjang umur pakai TPA, sehingga kekhawatiran kemana sampah akan dibuang jika TPA sudah melebihi kapasitas dapat dihindarkan atau paling kurang dapat diperlambat. (a2p-DLHK)
KOMENTAR UNTUK DISIKUSI