Perubahan iklim merupakan salah satu isu lingkungan global yang paling mengemuka saat ini, seiring dengan fenomena alam yang terjadi seperti peningkatan suhu permukaan bumi, anomali cuaca dan iklim, serta kenaikan permukaan air laut. Penyebab utama perubahan iklim adalah pemanasan global (global warming) sebagai akibat dari meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer bumi yang mengubah peran efek rumah kaca. Gas Rumah Kaca (GRK) seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), Nitrogen oksida (N2O), dan gas berfluorinasi, dapat dihasilkan oleh proses alamiah seperti dekomposisi material organik, letusan gunung berapi atau kebakaran hutan. Peningkatan aktivitas manusia sehari-hari, menyebabkan dihasilkannya emisi GRK yang besar jauh melampaui GRK yang dihasilkan secara alamiah sehingga terjadi perubahan iklim, yang berujung pada ancaman terhadap keberadaan kehidupan di muka bumi.
Dampak nyata perubahan iklim bagi kehidupan sudah kita rasakan saat ini. Dilansir dari bmkg.go.id, tahun 2024 dinyatakan sebagai tahun terpanas dengan suhu rata- rata global mencapai 1.550 C diatas tingkat pra industri. Angka ini melampaui ambang batas suhu untuk mencegah krisis iklim dalam perjanjian Paris. Perubahan suhu permukaan bumi yang mendorong anomali cuaca dimana terjadi cuaca yang ekstrem yakni curah hujan yang sangat tinggi pada musim hujan, sekaligus musim kemarau yagn lebih kering dan panas. Fenomena yang terjadi saat ini adalah pada musim hujan sering disertai dengan bencana banjir dan tanah longsor yang membawa kerugian materi hingga korban jiwa bagi warga terdampak. Pada musim kemarau yang kering mengakibatkan antara lain banyaknya kegagalan panen pada sektor pertanian, kebakaran hutan dan lahan hingga korban jiwa akibat shock heat.
Salah satu cara untuk mengurangi laju GRK yang dihasilkan dari aktivitas manusia adalah dengan melakukan pengurangan GRK yang dihasilkan setiap individu baik secaa langsung maupun tidak langsung. Untuk dapat melakukan pengurangan GRK yang dihasilkan, setiap individu wajib melakukan identifikasi GRK yang dihasilkannya. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan jejak karbon (carbon footprints). Jejak karbon didefenisikan sebagai total emisi yang dihasilkan oleh individu, peristiwa, organisasi, atau produk dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen. Jejak karbon adalah salah satu pendekatan untuk menghitung dampak dari berbagai aktivitas yang terjadi terhadap perubahan iklim. Pada pokoknya, jejak karbon menghitung jumlah Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan baik langsung maupun tidak langsung oleh individu, peristiwa, organisasi, atau produk.
Jejak karbon sertiap individu adalah jumlah total emisi GRK, terutama karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari individu seperti penggunaan energi listrik, sarana transportasi, pola makan, kebiasaan konsumsi hingga pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah adalah salah satu aktivitas sehari-hari manusia yang menghasilkan GRK dalam jumlah yang besar. Sampah, terutama sampah organik dan sampah plastik menghasilkan dua jenis GRK yang utama yakni metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2) yang signifikan. GRK dari sampah dihasilkan melalui dekomposisi sampah organik di TPA, produksi dan penggunaan plastik, pembakaran sampah secara terbuka, dan pemborosan/ menyisakan makanan (food waste). Dilansir dari google.com, produksi dan pembakaran plastik secara global pada tahun 2019 telah menambah lebih dari 850 juta metrik ton gas rumah kaca ke atmosfer bumi.
Dilansir dari detiknews.com, berdasarkan perkiraan KLH RI, setiap orang di Indonesia dapat menghasilkan antara 0,7 kg - 1 kg sampah per hari. dimana 19% diantaranya adalah sampah plastik. Dengan demikian setiap orang diperkirakan menghasilkan sampah plastik hingga sebesar 0,2 kg/ hari. Timbulan sampah plastik yang besar ini jika tidak dikelola dengan baik dan benar menjadi salah satu penyumbang emisi GRK terbesar oleh setiap orang di Indonesia. Dalam beberapa studi menyimpulkan pembakaran sampah plastik merupakan salah satu sumber utama emisi CO2 bahkan dapat mencapai 96,2% dari total emisi CO2 dari pembakaran sampah secara umum. Penggunaan plastik sekali pakai, yang biasanya dipakai sebagai wadah (tas plastik) menghasilkan GRK yang sangat besar dengan 90% mewakili emisi plastik dari tahap produksi.
Untuk mengurangi jejak karbon berupa GRK yang dihasilkan dari aktivitas setiap individu, salah satunya dengan melakukan pengelolaan sampah yang baik dan benar. Hal utama yang paling penting dilakukan adalah melakukan pengurangan sampah yang dihasilkan setiap individu, khususnya sampah plastik. Pengurangan penggunaan sampah plastik, khususnya sampah plastik sekali pakai seperti tas kresek, atau semua sampah plastik yang digunakan sekali lalu dibuang ke tempat sampah, akan mengurangi timbulan emisi GRK khususnya karbon dioksida (CO2) dalam 2 sumber timbulan GRK yakni pada proses produksi plastik sekaligus proses degradasi sampah plastik pada lingkungan. Penggantian penggunaan plastik sekali pakai seperti tas kresek dengan wadah berbahan non plastik yang bisa dipakai berkali-kali sangat berkontribusi dalam penurunan timbulan emisi GRK. Cara lain adalah membawa wadah minum dan makan untuk bekal dari rumah dalam kegiatan sehari-hari juga berkontribusi dalam pengurangan emisi GRK. Melakukan kebiasaan diet plastik, dengan mengurangi konsumsi sehari-hari yang menghasilkan limbah plastik juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi GRK yang dihasilkan. Pengurangan sampah organik berupa sisa makanan yang dihasilkan dari setiap individu berkontribusi dalam pengurangan timbulan emisi GRK. Produksi bahan makanan seperti beras, daging, susu, sayur-sayuran dan buah-buahan menghasilkan emisi GRK yang besar. Selain itu, proses dekomposisi sampah organik berupa sisa makanan juga berkontribusi menghasilkan emisi GRK. Gerakan “konsumsi dengan bijak”- dengan tidak memboroskan bahan makanan dan juga tidak menyisakan makanan yang kita santap setiap hari, adalah aksi nyata dalam pengurangan timbulan emisi GRK, sekaligus disposisi etika yang positif dalam penghormatan atas alam dan segala dinamikanya yang telah menyediakan sumber makanan untuk menjaga keberlanjutan kehidupan manusia.
Tindakan kecil ini berupa pengurangan sampah, khususnya sampah plastik yagn dihasilkan jika dilakukan secara konsisten dan disiplin diri yang besar oleh setiap orang, secara akumulatif akan mengurangi jumlah emisi GRK, dan berkontribusi besar dalam mengusahakan keberadaan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Mari kita masing-masing secara individual, melakukan pengurangan timbulan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) khususnya Karbon dioksida dan metana, dengan melakukan pengurangan sampah khususnya sampah plastik, secara aktif dan konsisten. Tindakan nyata dari diri kita masing-masing, walau kecil jika dilakukan secara bersama-sama dan konsisten akan berdampak positif yang sangat besar bagi keberadaan alam dan lingkungan yang baik dan sehat, serta keberlangsungan kehidupan kedepan. (a2p,wjy,nla-dlhk)
Gambar didownload dari https://tunashijau.id/kalkulasi-jejak-karbon-kendalikan-perubahan-iklim-5/ pada tanggal 29 Juni 2025, jam 23.03 wita
KOMENTAR UNTUK DISIKUSI